Lombok Tengah, 10 Oktober 2026 – Pembalap Red Bull KTM, Pedro Acosta, mengungkapkan bahwa motor yang digunakannya masih memiliki kelemahan dalam hal daya cengkeram ban atau grip dibandingkan Aprilia dan Ducati saat tampil di Sirkuit Mandalika. Kondisi tersebut menjadi salah satu tantangan yang dihadapi KTM dalam persaingan MotoGP Indonesia 2026. Menurut Acosta, perbedaan kemampuan motor dalam menghasilkan cengkeraman berpengaruh terhadap kecepatan dan kestabilan ketika melewati tikungan. Karakteristik lintasan Mandalika yang memiliki kombinasi tikungan cepat dan perubahan arah membuat aspek tersebut menjadi sangat penting. Pengakuan pembalap asal Spanyol itu menunjukkan masih adanya pekerjaan teknis yang perlu diselesaikan KTM untuk meningkatkan daya saing.
Acosta menilai kemampuan motor dalam mempertahankan traksi menjadi salah satu faktor pembeda ketika bersaing dengan para pembalap Aprilia dan Ducati. Daya cengkeram yang baik memungkinkan pembalap membuka gas lebih awal ketika keluar dari tikungan tanpa kehilangan kendali atas roda belakang. Sebaliknya, keterbatasan grip dapat membuat pembalap harus lebih berhati-hati dalam mengatur akselerasi. Situasi tersebut berpotensi menyebabkan kehilangan waktu pada setiap sektor lintasan, terutama ketika persaingan berlangsung dengan selisih yang sangat tipis. Dalam balapan MotoGP, perbedaan kecil pada kemampuan akselerasi dapat memberikan dampak besar terhadap posisi akhir.
Sirkuit Mandalika dikenal memiliki karakter lintasan yang menuntut keseimbangan antara kelincahan motor, kestabilan pengereman, dan kemampuan akselerasi. Rangkaian tikungan dengan berbagai tingkat kecepatan mengharuskan pembalap memiliki kepercayaan tinggi terhadap cengkeraman ban. Selain itu, perubahan kondisi permukaan lintasan dan temperatur dapat memengaruhi performa ban sepanjang sesi berlangsung. Pengaturan suspensi, distribusi bobot, serta perangkat elektronik menjadi bagian penting dalam menyesuaikan karakter motor dengan kebutuhan sirkuit. Bagi KTM, menemukan kombinasi pengaturan yang tepat menjadi tantangan untuk memperkecil selisih performa terhadap para pesaing.
Aprilia dan Ducati menjadi dua pabrikan yang mendapat perhatian Acosta karena kemampuan motor mereka dalam menghasilkan traksi di Mandalika. Keunggulan pada aspek tersebut dapat membantu pembalap mempertahankan kecepatan saat keluar dari tikungan dan mempersiapkan akselerasi menuju lintasan berikutnya. Namun, performa keseluruhan motor tidak hanya ditentukan oleh grip, melainkan juga kemampuan pengereman, stabilitas bagian depan, dan efisiensi aerodinamika. Setiap pabrikan memiliki pendekatan teknis berbeda dalam mengembangkan karakter kendaraan mereka. Persaingan tersebut membuat proses pengembangan motor menjadi semakin kompleks karena peningkatan pada satu aspek harus tetap mempertimbangkan keseimbangan performa secara keseluruhan.
KTM selama ini berupaya meningkatkan daya saing motor RC16 melalui pengembangan berbagai komponen teknis. Pengaturan sasis, suspensi, perangkat aerodinamika, dan sistem elektronik menjadi bagian dari proses penyempurnaan performa kendaraan. Masukan dari pembalap memiliki peranan penting dalam membantu teknisi memahami kendala yang muncul selama sesi latihan maupun balapan. Acosta dikenal memiliki gaya berkendara agresif yang membutuhkan respons motor secara presisi, terutama ketika melakukan pengereman keras dan akselerasi keluar tikungan. Karena itu, persoalan grip dapat memengaruhi kemampuannya memaksimalkan potensi motor dalam situasi persaingan ketat.
Selain karakter motor, pemilihan dan pengelolaan ban juga menjadi faktor yang menentukan performa sepanjang balapan. Ban MotoGP harus bekerja dalam rentang temperatur tertentu agar mampu menghasilkan daya cengkeram yang optimal. Ketika temperatur atau tekanan ban tidak berada pada kondisi ideal, pembalap dapat mengalami kesulitan mempertahankan kecepatan dan kestabilan. Kondisi tersebut semakin menantang ketika pembalap harus mengikuti motor lain dalam jarak dekat atau menghadapi perubahan temperatur lintasan. Tim teknis perlu menganalisis data secara menyeluruh untuk membedakan persoalan yang berasal dari karakter motor dan faktor pengelolaan ban.
Bagi Acosta, memahami kelemahan KTM dibandingkan Aprilia dan Ducati merupakan langkah penting untuk menentukan arah pengembangan berikutnya. Evaluasi setelah menjalani sesi di Mandalika dapat memberikan informasi mengenai area yang membutuhkan peningkatan. Data telemetri memungkinkan tim menganalisis perilaku motor ketika memasuki tikungan, mempertahankan sudut kemiringan, hingga melakukan akselerasi. Informasi tersebut kemudian dapat digunakan untuk menyesuaikan pengaturan kendaraan pada kesempatan berikutnya. Dengan proses evaluasi yang konsisten, KTM diharapkan mampu menemukan solusi untuk meningkatkan traksi tanpa mengorbankan keunggulan motor pada aspek lainnya.
Pernyataan Pedro Acosta mengenai keterbatasan grip KTM di Mandalika memperlihatkan ketatnya persaingan teknologi antarpabrikan MotoGP. Aprilia dan Ducati menjadi pembanding penting dalam upaya KTM meningkatkan kemampuan motor menghadapi berbagai karakter lintasan. Meski masih menghadapi kendala teknis, evaluasi yang dilakukan pembalap dan tim dapat menjadi dasar untuk memperbaiki performa pada seri berikutnya. Kemampuan mengembangkan motor secara konsisten akan sangat menentukan daya saing KTM dalam menghadapi kompetisi yang semakin ketat. Acosta diharapkan dapat terus memberikan masukan teknis yang membantu tim memperkecil ketertinggalan dan bersaing lebih kompetitif dengan para pembalap papan atas.




