Jakarta, 2 September 2026 – Pameran Bali Interfood 2026 resmi dibuka dengan menargetkan sekitar 15 ribu pengunjung selama tiga hari penyelenggaraan. Pameran yang mempertemukan pelaku industri makanan, minuman, perhotelan, restoran, kafe, hingga teknologi pengolahan tersebut kembali menjadi salah satu agenda bisnis penting bagi sektor hospitality dan kuliner di Bali. Penyelenggara menghadirkan berbagai perusahaan serta merek yang menawarkan produk, peralatan, bahan baku, dan teknologi terbaru untuk mendukung kebutuhan industri. Tidak hanya menjadi ruang promosi, Bali Interfood juga diarahkan sebagai tempat bertemunya produsen, distributor, pemilik usaha, investor, serta calon mitra bisnis. Besarnya target pengunjung menunjukkan optimisme terhadap perkembangan industri makanan dan minuman yang terus bergerak seiring pertumbuhan sektor pariwisata. Selama tiga hari, berbagai kegiatan bisnis, demonstrasi produk, kompetisi, dan program edukasi disiapkan untuk meningkatkan interaksi antara peserta pameran dan pengunjung profesional.
Bali Interfood 2026 berlangsung di Bali Nusa Dua Convention Center dengan menghadirkan peserta dari dalam maupun luar negeri. Pameran tersebut dirancang sebagai platform business-to-business yang memungkinkan perusahaan memperkenalkan produk secara langsung kepada pasar potensial. Pengunjung dapat melihat perkembangan terbaru dalam kategori makanan dan minuman, bahan baku, produk bakery, perlengkapan dapur, mesin pengolahan, teknologi pengemasan, hingga peralatan untuk hotel dan restoran. Keberagaman kategori tersebut membuat pameran tidak hanya relevan bagi perusahaan besar, tetapi juga pelaku usaha kecil dan menengah yang sedang mencari produk atau teknologi untuk mengembangkan bisnis. Interaksi langsung antara pemasok dan pembeli diharapkan menghasilkan peluang kerja sama yang dapat berlanjut setelah pameran berakhir. Penyelenggara juga mendorong peserta memanfaatkan momentum tersebut untuk memperluas jaringan distribusi, terutama di kawasan Bali dan Indonesia bagian timur. Posisi Bali sebagai salah satu pusat pariwisata internasional memberikan nilai tambah karena kebutuhan industri hospitality di wilayah tersebut terus berkembang.
Chief Executive Officer Krista Exhibitions Daud D Salim mengatakan target sekitar 15 ribu pengunjung ditetapkan dengan mempertimbangkan besarnya antusiasme industri terhadap penyelenggaraan tahun ini. Pengunjung yang dibidik terutama berasal dari kalangan profesional seperti pemilik hotel, restoran, kafe, katering, distributor, importir, eksportir, retailer, hingga pengusaha makanan dan minuman. Kehadiran kelompok profesional menjadi penting karena pameran diarahkan untuk menghasilkan transaksi serta hubungan bisnis, bukan sekadar menjadi tempat melihat produk. Perusahaan peserta dapat bertemu langsung dengan pengambil keputusan yang membutuhkan produk maupun solusi untuk operasional bisnis mereka. Pola tersebut memungkinkan proses penjajakan kerja sama berlangsung lebih cepat dibandingkan apabila perusahaan hanya mengandalkan komunikasi secara daring. Pertemuan tatap muka juga memberikan kesempatan kepada calon pembeli untuk melihat, mencoba, dan membandingkan produk sebelum menentukan keputusan bisnis. Penyelenggara berharap aktivitas tersebut menghasilkan transaksi sekaligus membuka pasar baru bagi peserta.
Pameran tahun ini menghadirkan beragam produk yang mencerminkan perkembangan kebutuhan industri kuliner dan hospitality. Produk makanan siap saji, bahan baku premium, kopi, teh, produk susu, makanan beku, bahan bakery, hingga berbagai produk lokal menjadi bagian dari kategori yang ditampilkan. Pada sektor peralatan, pengunjung dapat menemukan mesin pengolahan makanan, mesin kopi, perlengkapan dapur profesional, pendingin, teknologi penyimpanan, serta solusi pengemasan. Perkembangan otomatisasi juga mulai terlihat melalui kehadiran perangkat yang membantu usaha meningkatkan efisiensi produksi dan mengurangi pekerjaan manual. Teknologi semacam ini semakin dibutuhkan ketika perusahaan menghadapi tuntutan menjaga konsistensi kualitas sekaligus mengendalikan biaya operasional. Pelaku UMKM dapat menggunakan pameran untuk membandingkan berbagai teknologi sebelum melakukan investasi peralatan. Sementara bagi perusahaan besar, pameran memberikan kesempatan mencari solusi yang dapat meningkatkan kapasitas produksi maupun memperbarui sistem yang telah digunakan.
Bali menjadi lokasi yang strategis karena memiliki ekosistem hotel, restoran, kafe, dan usaha pariwisata dalam jumlah besar. Tingginya kunjungan wisatawan membuat kebutuhan terhadap produk makanan, minuman, peralatan dapur, dan teknologi hospitality terus berkembang. Hotel dan restoran juga harus mengikuti perubahan preferensi konsumen yang semakin memperhatikan kualitas bahan, penyajian, kesehatan, serta keberlanjutan. Kondisi tersebut menciptakan pasar yang menarik bagi produsen maupun distributor yang ingin memperluas bisnis di Bali. Melalui Bali Interfood, perusahaan dapat memperoleh gambaran lebih dekat mengenai kebutuhan pelaku hospitality yang beroperasi di daerah wisata. Sebaliknya, pengusaha lokal memiliki kesempatan bertemu langsung dengan pemasok dari berbagai daerah dan negara tanpa harus melakukan perjalanan bisnis ke banyak tempat. Pertemuan kedua sisi tersebut diharapkan memperkuat rantai pasok industri makanan dan minuman di Bali.
Selain kegiatan pameran, berbagai program pendukung juga menjadi bagian dari penyelenggaraan Bali Interfood 2026. Demonstrasi memasak memberikan kesempatan kepada chef maupun perusahaan untuk memperlihatkan penggunaan bahan dan peralatan secara langsung. Kegiatan tersebut membantu pengunjung memahami fungsi produk yang mungkin sulit dijelaskan hanya melalui katalog atau materi promosi. Kompetisi kuliner juga menghadirkan ruang bagi para profesional dan talenta muda untuk menunjukkan kemampuan sekaligus bertukar pengetahuan mengenai perkembangan teknik memasak. Seminar dan sesi berbagi pengalaman memberikan perspektif mengenai tren industri, strategi bisnis, serta tantangan yang sedang dihadapi pelaku usaha. Kombinasi antara pameran dan kegiatan edukasi membuat pengunjung dapat memperoleh manfaat bisnis sekaligus memperbarui wawasan selama berada di lokasi. Penyelenggara berharap rangkaian acara tersebut membuat interaksi berlangsung lebih aktif sepanjang tiga hari penyelenggaraan.
Industri kopi menjadi salah satu sektor yang mendapat perhatian karena pertumbuhannya terus terlihat dalam beberapa tahun terakhir. Bali memiliki pasar kopi yang kuat dengan banyaknya kedai independen, restoran, hotel, serta bisnis specialty coffee yang melayani konsumen lokal dan wisatawan. Pameran memberikan kesempatan bagi produsen biji kopi, roaster, pemasok mesin, serta penyedia perlengkapan untuk memperkenalkan produk mereka kepada calon pembeli. Pengunjung profesional dapat membandingkan mesin kopi, teknik penyeduhan, karakter biji, hingga berbagai produk pendukung dalam satu lokasi. Pertemuan tersebut juga dapat membuka peluang bagi produsen kopi dari daerah lain di Indonesia untuk masuk ke pasar Bali. Di sisi lain, pengusaha kafe dapat menemukan pemasok baru yang menawarkan produk sesuai konsep bisnis mereka. Aktivitas tersebut memperlihatkan bagaimana pameran dapat menjadi penghubung antara sektor produksi di daerah dan pasar hospitality yang berkembang pesat.
Produk lokal dan UMKM juga memiliki kesempatan memanfaatkan Bali Interfood untuk memperluas jangkauan pasar. Banyak usaha makanan dan minuman memiliki produk berkualitas tetapi menghadapi tantangan dalam menemukan distributor maupun pembeli dari sektor hotel dan restoran. Pameran B2B memberikan ruang bagi mereka untuk memperkenalkan produk langsung kepada pihak yang memiliki kebutuhan pembelian dalam jumlah lebih besar. Kesempatan tersebut dapat menjadi pintu masuk menuju jaringan retail, hospitality, maupun pasar ekspor apabila produk memenuhi standar yang dibutuhkan. UMKM juga dapat mempelajari cara perusahaan lain mengemas, memasarkan, dan mempresentasikan produk kepada konsumen profesional. Informasi tersebut berguna untuk meningkatkan daya saing setelah pameran selesai. Dengan demikian, manfaat penyelenggaraan tidak hanya dinikmati perusahaan besar, tetapi juga dapat mendorong pertumbuhan bisnis skala kecil dan menengah.
Perubahan perilaku konsumen menjadi salah satu faktor yang ikut memengaruhi produk yang ditampilkan dalam industri makanan dan minuman. Konsumen semakin memperhatikan komposisi, kandungan gula, sumber bahan baku, proses produksi, hingga aspek keberlanjutan kemasan. Hotel dan restoran harus merespons perubahan tersebut dengan menyediakan pilihan menu yang lebih beragam dan sesuai kebutuhan pelanggan. Produsen kemudian menyesuaikan diri dengan menghadirkan bahan alternatif, produk berbasis tanaman, makanan praktis, serta berbagai inovasi yang mengutamakan efisiensi tanpa mengabaikan kualitas. Bali Interfood menjadi tempat perusahaan melihat bagaimana tren tersebut diterjemahkan menjadi produk yang dapat digunakan secara komersial. Pelaku usaha dapat mengamati respons pasar sebelum menentukan apakah sebuah produk layak dimasukkan ke dalam bisnis mereka. Pertukaran informasi semacam itu menjadi salah satu nilai penting dari pertemuan industri secara langsung.
Teknologi pengemasan turut menjadi perhatian karena kebutuhan industri tidak berhenti pada kualitas makanan yang diproduksi. Kemasan memiliki fungsi menjaga keamanan produk, memperpanjang masa simpan, mempermudah distribusi, sekaligus membentuk identitas merek. Perusahaan kini juga menghadapi tuntutan mengurangi penggunaan material yang sulit didaur ulang sehingga inovasi kemasan semakin dibutuhkan. Pameran memberikan kesempatan bagi penyedia teknologi untuk menunjukkan solusi yang lebih efisien dan sesuai dengan kebutuhan produksi modern. Pengusaha dapat menghitung kebutuhan investasi berdasarkan kapasitas produksi serta jenis produk yang mereka miliki. Bagi usaha yang sedang berkembang, pemilihan mesin dan kemasan yang tepat dapat membantu meningkatkan skala bisnis tanpa menurunkan konsistensi kualitas. Kehadiran berbagai pemasok dalam satu tempat membuat proses perbandingan dapat dilakukan dengan lebih praktis.
Sektor perhotelan juga membutuhkan inovasi untuk mempertahankan standar pelayanan di tengah persaingan destinasi wisata. Makanan dan minuman menjadi bagian penting dari pengalaman tamu sehingga hotel terus mencari produk maupun konsep yang dapat memberikan nilai tambah. Kualitas sarapan, restoran, layanan kamar, banquet, hingga penyelenggaraan acara memiliki hubungan langsung dengan kemampuan dapur dan rantai pasok. Melalui pameran, pengelola hotel dapat menemukan bahan baku maupun teknologi yang membantu menjaga kualitas pelayanan secara konsisten. Efisiensi energi dan penggunaan peralatan yang lebih hemat juga semakin menjadi pertimbangan karena dapat mengurangi biaya operasional dalam jangka panjang. Penyedia teknologi dapat menggunakan kesempatan tersebut untuk memperlihatkan perhitungan manfaat investasi secara langsung kepada calon pelanggan. Interaksi semacam ini memperkuat fungsi Bali Interfood sebagai tempat bertemunya kebutuhan industri dengan penyedia solusi.
Penyelenggaraan pameran berskala besar juga memberikan dampak terhadap aktivitas ekonomi di sekitar lokasi. Peserta dan pengunjung dari luar Bali membutuhkan akomodasi, transportasi, makanan, serta berbagai layanan selama berada di daerah tersebut. Kegiatan bisnis tersebut secara tidak langsung memberikan tambahan aktivitas bagi hotel, restoran, penyedia transportasi, dan usaha lokal lainnya. Apabila target 15 ribu pengunjung tercapai, pergerakan orang selama tiga hari dapat memberikan kontribusi terhadap sektor jasa di kawasan Nusa Dua dan sekitarnya. Dampak yang lebih panjang dapat muncul apabila pertemuan selama pameran menghasilkan kerja sama bisnis baru. Kontrak distribusi atau pembelian produk dapat menciptakan transaksi yang terus berlangsung setelah acara selesai. Karena itu, keberhasilan sebuah pameran tidak hanya diukur dari jumlah orang yang datang, tetapi juga nilai hubungan bisnis yang berhasil dibangun.
Pameran juga dapat menjadi sarana membaca arah perkembangan industri makanan dan minuman Indonesia. Produk yang mendapatkan perhatian besar dari pengunjung dapat memberikan gambaran mengenai kebutuhan pasar yang sedang tumbuh. Produsen dapat menggunakan respons tersebut sebagai masukan untuk pengembangan produk berikutnya. Distributor juga memperoleh kesempatan mengetahui kategori yang berpotensi memiliki permintaan tinggi sebelum memperluas portofolio. Informasi pasar yang diperoleh melalui percakapan langsung sering kali memberikan detail yang tidak tersedia dalam laporan statistik. Pelaku bisnis dapat mengetahui persoalan yang dihadapi pelanggan, mulai dari harga, ketersediaan pasokan, kualitas, hingga layanan purnajual. Pengetahuan tersebut dapat digunakan untuk menyusun strategi bisnis yang lebih sesuai dengan kondisi pasar.
Penyelenggara berharap Bali Interfood terus menjadi agenda rutin yang memperkuat hubungan antara industri makanan, minuman, dan pariwisata. Pertumbuhan sektor hospitality membutuhkan dukungan rantai pasok yang mampu menyediakan produk berkualitas secara konsisten. Pada saat yang sama, produsen membutuhkan akses terhadap pembeli profesional agar produk mereka dapat menjangkau pasar yang lebih luas. Pameran mempertemukan kedua kebutuhan tersebut melalui ruang yang memungkinkan transaksi, diskusi, demonstrasi, dan pertukaran informasi berlangsung secara langsung. Kehadiran peserta dari berbagai kategori juga mendorong kolaborasi lintas sektor yang mungkin tidak terjadi melalui saluran pemasaran biasa. Perusahaan dapat menemukan mitra distribusi, pemasok bahan, penyedia teknologi, atau bahkan ide pengembangan produk baru selama mengikuti kegiatan. Hubungan yang terbentuk diharapkan berlanjut menjadi kerja sama komersial setelah pameran berakhir.
Dengan target sekitar 15 ribu pengunjung selama tiga hari, Bali Interfood 2026 membawa optimisme terhadap aktivitas industri makanan dan minuman di tengah pertumbuhan sektor pariwisata. Pameran tersebut menyediakan ruang bagi perusahaan besar, distributor, UMKM, pelaku hospitality, chef, hingga pengusaha kuliner untuk bertemu dan melihat perkembangan produk maupun teknologi terbaru. Beragam kategori mulai dari bahan makanan, minuman, kopi, bakery, mesin pengolahan, perlengkapan dapur, hingga teknologi pengemasan memberikan pilihan luas kepada pengunjung profesional. Rangkaian demonstrasi, kompetisi, dan program edukasi juga membuat penyelenggaraan tidak hanya berorientasi pada transaksi, tetapi sekaligus menjadi tempat pertukaran pengetahuan industri. Posisi Bali sebagai destinasi wisata internasional memberikan peluang besar bagi produk yang ingin masuk ke jaringan hotel, restoran, kafe, dan bisnis pariwisata. Selama tiga hari penyelenggaraan, aktivitas tersebut diharapkan menghasilkan peluang kerja sama baru sekaligus memperkuat jaringan industri kuliner dan hospitality. Bali Interfood 2026 pada akhirnya diharapkan memberikan manfaat yang berlanjut setelah pameran selesai melalui transaksi, kemitraan, serta pengembangan bisnis baru di berbagai sektor terkait.





