Pidie Jaya, 4 September 2026 – Bupati Pidie Jaya Sibral Malasyi mendorong seluruh pihak memperkuat kolaborasi untuk mempercepat rehabilitasi dan rekonstruksi setelah bencana hidrometeorologi yang melanda daerah tersebut. Pemerintah kabupaten ingin proses pemulihan dilakukan secara terukur, terintegrasi, dan berorientasi langsung terhadap kebutuhan masyarakat terdampak. Penegasan itu disampaikan dalam evaluasi penanganan pascabencana yang melibatkan Satuan Tugas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (Satgas PRR), organisasi perangkat daerah, serta instansi terkait lainnya. Evaluasi dilakukan untuk mengetahui perkembangan program yang telah diselesaikan sekaligus mengidentifikasi pekerjaan yang masih membutuhkan percepatan. Sibral menilai koordinasi menjadi penting karena proses pemulihan melibatkan kewenangan dan dukungan dari pemerintah kabupaten, Pemerintah Aceh, hingga pemerintah pusat. Seluruh pihak diminta bergerak dengan arah yang sama agar masyarakat dapat memperoleh kepastian mengenai pemulihan kehidupan mereka.
Sibral meminta setiap organisasi perangkat daerah menyampaikan data terbaru mengenai perkembangan rehabilitasi dan rekonstruksi secara terbuka serta telah melalui proses verifikasi. Data tersebut harus menggambarkan pekerjaan yang telah diselesaikan, kegiatan yang masih berlangsung, serta berbagai persoalan yang belum mendapatkan penyelesaian. Pemerintah daerah membutuhkan informasi akurat untuk menentukan program mana yang harus dipercepat dan dukungan apa yang masih diperlukan dari pemerintah pusat maupun Pemerintah Aceh. Pendataan juga penting untuk mencegah terjadinya perbedaan informasi yang dapat menghambat pengambilan keputusan. Setiap kegiatan yang telah selesai harus diperiksa manfaatnya agar benar-benar menjawab kebutuhan masyarakat terdampak. Sementara itu, persoalan yang masih ditemukan di lapangan diminta segera dicarikan jalan keluar melalui koordinasi antarlembaga.
Pemulihan hunian menjadi salah satu kebutuhan mendasar yang mendapatkan perhatian karena bencana menyebabkan kerusakan rumah masyarakat di sejumlah wilayah. Pemerintah ingin warga yang rumahnya terdampak memperoleh kepastian mengenai proses rehabilitasi maupun pembangunan tempat tinggal yang dibutuhkan. Penyediaan hunian tidak hanya berkaitan dengan pembangunan fisik, tetapi juga menentukan kemampuan keluarga untuk kembali menjalani kehidupan secara normal setelah bencana. Rumah yang aman memberikan dasar bagi masyarakat untuk memulihkan aktivitas ekonomi, pendidikan anak, dan kehidupan sosial keluarga. Karena itu, proses pendataan penerima dan tingkat kerusakan harus dilakukan secara cermat agar bantuan diberikan sesuai kebutuhan. Koordinasi antara pemerintah daerah dan Satgas PRR diharapkan membantu menyelesaikan berbagai hambatan yang masih muncul dalam proses penyediaan hunian.
Selain tempat tinggal, pemulihan infrastruktur dasar menjadi bagian penting dalam agenda rehabilitasi dan rekonstruksi Pidie Jaya. Jalan, jembatan, jaringan air bersih, fasilitas pelayanan masyarakat, serta berbagai infrastruktur lain yang terdampak memiliki hubungan langsung dengan aktivitas warga. Kerusakan pada akses transportasi dapat menghambat mobilitas masyarakat sekaligus distribusi hasil pertanian dan kebutuhan sehari-hari. Gangguan pada jaringan air bersih juga dapat memberikan dampak terhadap kesehatan apabila berlangsung dalam waktu panjang. Pemerintah daerah karena itu ingin pekerjaan infrastruktur dilakukan berdasarkan tingkat kebutuhan dan manfaat yang dapat diterima masyarakat. Penentuan prioritas diperlukan karena proses pemulihan membutuhkan sumber daya besar dan tidak seluruh pekerjaan dapat diselesaikan secara bersamaan. Infrastruktur yang memiliki fungsi paling penting terhadap kehidupan masyarakat harus mendapatkan perhatian lebih awal.
Penanganan sungai dan pengendalian banjir juga menjadi salah satu prioritas dalam pemulihan pascabencana. Pemerintah tidak ingin rehabilitasi hanya mengembalikan kondisi seperti sebelum bencana tanpa melakukan perbaikan terhadap faktor yang dapat meningkatkan risiko kejadian serupa. Sungai yang mengalami perubahan alur, sedimentasi, atau persoalan lainnya membutuhkan penanganan agar kemampuan mengalirkan air tetap terjaga. Infrastruktur pengendalian banjir juga perlu diperiksa untuk mengetahui kerusakan maupun kebutuhan penguatan pada titik rawan. Langkah tersebut membutuhkan koordinasi karena pengelolaan sungai dapat melibatkan kewenangan pemerintah pada tingkatan berbeda. Pemerintah Kabupaten Pidie Jaya berharap dukungan instansi terkait dapat mempercepat penanganan sehingga masyarakat memperoleh perlindungan lebih baik ketika menghadapi hujan dengan intensitas tinggi.
Sektor pertanian turut menjadi perhatian karena bencana hidrometeorologi berdampak terhadap jaringan irigasi dan lahan yang menjadi sumber penghidupan masyarakat. Kerusakan saluran irigasi dapat menghambat distribusi air menuju areal persawahan dan memengaruhi kemampuan petani menjalankan kegiatan produksi. Pada saat yang sama, lahan yang terkena banjir maupun material bencana membutuhkan penanganan sebelum kembali digunakan secara optimal. Pemulihan sektor pertanian memiliki arti penting karena tidak hanya berkaitan dengan produksi pangan, tetapi juga pendapatan keluarga yang menggantungkan kehidupan pada sektor tersebut. Pemerintah ingin perbaikan infrastruktur pertanian dilakukan bersamaan dengan dukungan terhadap petani terdampak. Dengan pemulihan yang lebih cepat, kegiatan produksi diharapkan dapat kembali berjalan dan tekanan ekonomi terhadap masyarakat dapat berkurang.
Penguatan ekonomi masyarakat menjadi bagian lain yang tidak dapat dipisahkan dari pembangunan kembali infrastruktur. Bencana dapat menghentikan kegiatan usaha, merusak aset produktif, mengurangi pendapatan, dan membuat sebagian keluarga kehilangan sumber penghidupan untuk sementara waktu. Karena itu, rehabilitasi dan rekonstruksi perlu mencakup program yang membantu masyarakat kembali menjalankan kegiatan ekonominya. Dukungan dapat diarahkan berdasarkan kondisi sektor yang terdampak, termasuk pertanian, perdagangan, usaha mikro, maupun kegiatan produktif lainnya. Pemerintah daerah perlu memastikan bantuan ekonomi tidak berjalan sendiri-sendiri tanpa keterkaitan dengan program pemulihan lainnya. Ketika hunian, akses jalan, air bersih, pertanian, dan kegiatan ekonomi pulih secara bersamaan, masyarakat memiliki peluang lebih besar untuk kembali hidup mandiri.
Sibral menilai kehadiran Satgas PRR bersama kementerian dan lembaga terkait dapat menjadi pengungkit dalam menyelesaikan persoalan yang membutuhkan kewenangan maupun dukungan dari pemerintah pusat. Pemerintah Kabupaten Pidie Jaya tidak dapat menangani seluruh kebutuhan pemulihan hanya menggunakan kemampuan daerah karena skala kerusakan mencakup berbagai sektor. Koordinasi dibutuhkan untuk memastikan program dari masing-masing lembaga saling melengkapi dan tidak justru bertumpang tindih. Sinkronisasi juga membantu mengarahkan anggaran menuju kebutuhan yang belum mendapatkan penanganan. Setiap instansi diminta memiliki pemahaman yang sama mengenai prioritas sehingga pelaksanaan di lapangan dapat berlangsung lebih efektif. Kolaborasi tersebut diharapkan memperpendek waktu penyelesaian berbagai pekerjaan yang selama ini masih menghadapi kendala teknis maupun administratif.
Pemerintah Kabupaten Pidie Jaya menegaskan rehabilitasi dan rekonstruksi tidak semata-mata diukur berdasarkan jumlah infrastruktur yang berhasil dibangun kembali. Pemulihan juga harus mampu mengembalikan rasa aman, harapan, serta keberlangsungan hidup masyarakat setelah menghadapi dampak bencana. Infrastruktur yang selesai dibangun harus dapat digunakan dan memberikan manfaat sesuai kebutuhan warga, bukan sekadar memenuhi target pekerjaan. Pendekatan tersebut membuat evaluasi hasil menjadi sama pentingnya dengan percepatan pembangunan fisik. Pemerintah juga ingin masyarakat memperoleh informasi yang jelas mengenai perkembangan pemulihan sehingga tidak muncul ketidakpastian terhadap program yang sedang dijalankan. Komunikasi dengan warga menjadi penting karena masyarakat merupakan pihak yang paling mengetahui kebutuhan di lingkungan terdampak.
Sibral mengapresiasi keterlibatan pemerintah pusat melalui Satgas PRR, Pemerintah Aceh, TNI, Polri, serta seluruh pihak yang selama ini membantu penanganan dan pemulihan Pidie Jaya. Ia mengajak seluruh pemangku kepentingan mempertahankan komitmen tersebut sampai masyarakat terdampak benar-benar dapat kembali menjalani kehidupan secara normal. Pemerintah daerah menekankan pentingnya menyatukan data, menyinkronkan program, dan mempercepat pekerjaan yang masih belum selesai agar tidak terjadi hambatan akibat koordinasi. Pemulihan juga diharapkan tidak hanya mengembalikan kondisi daerah, tetapi sekaligus meningkatkan ketangguhan menghadapi ancaman bencana pada masa mendatang. Pembangunan kembali infrastruktur perlu mempertimbangkan risiko sehingga fasilitas yang dipulihkan memiliki daya tahan lebih baik. Dengan kolaborasi yang kuat dan program yang tepat sasaran, Pemerintah Kabupaten Pidie Jaya berharap proses rehabilitasi dan rekonstruksi dapat berlangsung lebih cepat, berkelanjutan, serta memberikan manfaat nyata bagi seluruh masyarakat terdampak.





