Depok, 10 September 2026 – Kemacetan parah terjadi di sekitar pintu keluar Tol Depok-Antasari atau Desari kawasan Sawangan, Kota Depok, hingga membuat perjalanan kendaraan tersendat pada Kamis. Kepadatan yang terjadi di Jalan Raya Sawangan berdampak terhadap kendaraan pribadi maupun angkutan umum yang melintas di kawasan tersebut. Sejumlah penumpang bus TransJabodetabek bahkan memilih turun dari kendaraan dan melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki karena bus terjebak dalam antrean panjang. Situasi tersebut memperlihatkan kembali persoalan lalu lintas di sekitar Exit Tol Sawangan yang selama ini menjadi salah satu titik kemacetan utama di wilayah Depok bagian barat. Pertemuan arus kendaraan dari jalan tol dengan lalu lintas lokal di Jalan Raya Sawangan membuat volume kendaraan meningkat dalam waktu bersamaan. Kondisi semakin terasa ketika kendaraan dari berbagai arah bertemu pada ruas jalan yang kapasitasnya terbatas.
Penumpang angkutan umum yang terjebak kemacetan harus menghadapi waktu perjalanan lebih panjang dibandingkan kondisi normal. Ketika kendaraan nyaris tidak bergerak, sebagian penumpang memutuskan turun meskipun bus belum mencapai titik pemberhentian yang dituju. Mereka kemudian berjalan di sisi jalan untuk mencari angkutan lanjutan atau menuju lokasi yang dianggap lebih mudah dijangkau. Keputusan tersebut menggambarkan tingkat kepadatan yang terjadi ketika antrean kendaraan membuat waktu tunggu menjadi sulit diperkirakan. Bagi penumpang yang sedang mengejar jadwal kerja maupun aktivitas lainnya, bertahan di dalam kendaraan menjadi pilihan yang semakin tidak menguntungkan. Namun, turun di tengah kepadatan lalu lintas juga memiliki risiko keselamatan sehingga kondisi tersebut membutuhkan perhatian dari petugas dan pengelola transportasi.
Exit Tol Sawangan memang telah lama menjadi salah satu titik yang paling rentan mengalami kemacetan di Jalan Raya Sawangan. Kendaraan yang keluar dari Tol Desari harus bergabung dengan arus kendaraan lokal yang bergerak menuju Sawangan, Parung Bingung, Mampang, dan sejumlah kawasan permukiman di sekitarnya. Pada arah sebaliknya, kendaraan yang hendak memasuki tol juga dapat membentuk antrean ketika volume lalu lintas meningkat. Persoalan semakin kompleks karena kapasitas Jalan Raya Sawangan pada beberapa bagian belum sebanding dengan pertumbuhan kendaraan dan perkembangan kawasan permukiman. Pemerintah Kota Depok sebelumnya mengidentifikasi Exit Tol Sawangan, simpang Parung Bingung, dan kawasan Tugu Batu sebagai tiga titik utama penyebab kemacetan di koridor tersebut. Ketiga lokasi memiliki karakter pertemuan arus yang membuat antrean pada satu titik dapat dengan cepat merambat ke ruas lainnya.
Kepadatan di sekitar pintu tol juga bersinggungan langsung dengan operasional TransJabodetabek rute D41 yang menghubungkan Sawangan dengan Lebak Bulus melalui Tol Desari. Layanan tersebut menjadi salah satu pilihan warga Depok yang bekerja atau beraktivitas menuju Jakarta Selatan karena menawarkan akses langsung ke kawasan Fatmawati dan Lebak Bulus. Rute D41 berangkat dari Terminal Sawangan dan melewati kawasan Parung Bingung serta Exit Tol Desari sebelum memasuki jalan tol menuju Jakarta. Pada perjalanan kembali, bus juga menggunakan koridor yang sama untuk menuju Sawangan. Ketika kemacetan terjadi di sekitar pintu tol, waktu tempuh bus otomatis ikut bertambah karena kendaraan harus bercampur dengan lalu lintas umum. Ketidakpastian perjalanan kemudian menjadi persoalan tersendiri bagi layanan transportasi massal yang seharusnya memberikan alternatif lebih efisien dibandingkan kendaraan pribadi.
Tingginya penggunaan TransJabodetabek di kawasan Exit Tol Sawangan sebenarnya telah terlihat sejak awal 2026. Pemerintah Kota Depok sebelumnya menemukan banyak penumpang memilih naik dan turun bus di sekitar pintu Tol Desari dibandingkan menggunakan fasilitas yang berada di Terminal Sawangan. Wali Kota Depok Supian Suri bahkan sempat meninjau langsung kawasan tersebut setelah aktivitas penumpang menjadi perhatian. Dari hasil peninjauan, pemerintah kota menyatakan perlunya menyediakan halte resmi sekaligus ruang yang memadai untuk manuver bus. Fasilitas tersebut dibutuhkan agar kegiatan naik dan turun penumpang tidak mengganggu arus kendaraan yang sudah padat. Tanpa penataan yang baik, berhentinya bus di sekitar akses tol berpotensi menambah hambatan lalu lintas sekaligus menempatkan penumpang dalam kondisi yang kurang aman.
Pemerintah Kota Depok juga telah merencanakan penanganan kemacetan melalui pelebaran sejumlah bagian Jalan Raya Sawangan. Exit Tol Sawangan menjadi salah satu lokasi yang masuk perhatian bersama dengan simpang Parung Bingung dan Tugu Batu. Pelebaran dinilai diperlukan karena sejumlah bagian jalan mengalami penyempitan ketika arus kendaraan dari ruas yang lebih lebar masuk ke jalur dengan kapasitas lebih kecil. Pertumbuhan kawasan perumahan di Sawangan dan sekitarnya juga terus meningkatkan jumlah perjalanan harian yang menggunakan koridor tersebut. Selain menjadi akses menuju Jakarta, Jalan Raya Sawangan digunakan masyarakat untuk menuju pusat pemerintahan Kota Depok, rumah sakit, sekolah, kawasan perdagangan, dan berbagai fasilitas publik. Artinya, persoalan kemacetan tidak dapat diselesaikan hanya dengan mengatur kendaraan di pintu tol, tetapi membutuhkan peningkatan kapasitas dan penataan keseluruhan koridor.
Keberadaan Tol Desari sebelumnya diharapkan dapat memberikan alternatif bagi perjalanan masyarakat dari Depok menuju Jakarta. Namun, pembangunan jalan tol juga menciptakan titik pertemuan arus baru ketika kendaraan keluar dan masuk melalui Sawangan. Apabila kapasitas jalan arteri di sekitar pintu tol tidak berkembang sejalan dengan pertumbuhan volume kendaraan, kemacetan dapat berpindah dari satu ruas menuju simpang akses tol. Kondisi tersebut terlihat pada Jalan Raya Sawangan yang menjadi penghubung utama sejumlah wilayah dengan jaringan Tol Desari. Pada jam sibuk, antrean kendaraan dari sekitar pintu tol dapat memengaruhi pergerakan di simpang lain yang lokasinya berdekatan. Kendaraan yang mencoba mencari celah atau berpindah lajur juga dapat memperlambat arus sehingga kepadatan semakin sulit terurai.
Peristiwa penumpang bus yang memilih turun ketika kendaraan terjebak kemacetan menjadi indikator bahwa persoalan tersebut turut memengaruhi kualitas transportasi umum. Ketepatan waktu merupakan salah satu faktor penting agar masyarakat bersedia meninggalkan kendaraan pribadi dan beralih menggunakan bus. Apabila bus tetap terjebak dalam kepadatan yang sama dengan kendaraan pribadi, keunggulan waktu perjalanan menjadi berkurang. Penataan halte, titik pemberhentian, prioritas pergerakan angkutan umum, dan pengaturan lalu lintas di sekitar pintu tol karena itu perlu dilakukan secara terintegrasi. Keselamatan penumpang juga harus menjadi pertimbangan karena aktivitas naik dan turun seharusnya berlangsung di tempat yang memiliki ruang tunggu serta akses pejalan kaki memadai. Penumpang yang turun di ruas jalan ketika lalu lintas padat berisiko berhadapan langsung dengan kendaraan yang masih bergerak.
Dalam jangka panjang, penanganan kawasan Sawangan membutuhkan kombinasi antara pembangunan infrastruktur dan penguatan transportasi massal. Pelebaran jalan dapat menambah kapasitas pada titik tertentu, tetapi pertumbuhan kendaraan berpotensi kembali memenuhi ruang jalan apabila tidak diimbangi perubahan pola perjalanan masyarakat. Layanan seperti TransJabodetabek D41 menjadi bagian penting karena dapat mengangkut lebih banyak orang menggunakan jumlah kendaraan yang lebih sedikit. Integrasinya dengan MRT di kawasan Fatmawati dan Lebak Bulus juga membuka peluang perjalanan dari Depok menuju pusat Jakarta tanpa harus sepenuhnya menggunakan kendaraan pribadi. Agar pilihan tersebut semakin menarik, akses menuju halte, waktu perjalanan, frekuensi layanan, dan kenyamanan perpindahan antarmoda perlu terus diperbaiki. Pemerintah daerah dan pengelola transportasi juga perlu memastikan titik pemberhentian tidak justru menjadi sumber hambatan baru di kawasan yang sudah memiliki beban lalu lintas tinggi.
Kemacetan di Exit Tol Sawangan pada akhirnya kembali menunjukkan pentingnya percepatan penataan koridor Jalan Raya Sawangan secara menyeluruh. Pertumbuhan penduduk, pembangunan perumahan, meningkatnya aktivitas ekonomi, keberadaan akses Tol Desari, dan tingginya kebutuhan perjalanan menuju Jakarta membuat beban jalan terus bertambah. Situasi ketika penumpang angkutan umum sampai memilih turun dan berjalan kaki menjadi gambaran bahwa kepadatan tidak hanya merugikan pengguna kendaraan pribadi, tetapi juga masyarakat yang sudah memilih transportasi publik. Penanganan perlu mencakup rekayasa lalu lintas, peningkatan kapasitas simpang, pembangunan halte yang aman, pengaturan titik naik-turun penumpang, serta percepatan proyek pelebaran pada lokasi yang menjadi penyempitan. Transportasi umum juga perlu mendapatkan ruang yang lebih efisien agar waktu tempuhnya dapat bersaing dengan kendaraan pribadi. Dengan langkah yang terkoordinasi, kawasan Exit Tol Sawangan diharapkan tidak terus menjadi titik kemacetan yang menghambat mobilitas masyarakat Depok setiap kali volume kendaraan meningkat.





