Jakarta, 5 September 2026 – Perusahaan penyewaan mesin pesawat global Rolls-Royce & Partners Finance (RRPF) memperkuat kehadirannya di China dengan membentuk perusahaan penyewaan mesin pesawat secara langsung di Tianjin. Langkah tersebut menjadi bagian dari strategi perusahaan memanfaatkan pertumbuhan pasar penerbangan China yang saat ini merupakan salah satu yang terbesar di dunia. Entitas baru itu akan ditempatkan di Tianjin Dongjiang Comprehensive Bonded Zone dan didukung investasi lebih dari 2,3 miliar yuan atau sekitar 339 juta dolar AS, setara sekitar Rp5,6 triliun. Perusahaan akan memiliki aset mesin pesawat secara langsung di China sekaligus menjalankan kegiatan penyewaan kepada pelanggan domestik. Model tersebut berbeda dibandingkan pola yang selama ini banyak digunakan perusahaan asing dengan menempatkan kepemilikan aset di luar China. Kehadiran langsung itu diharapkan membuat pelayanan terhadap maskapai domestik menjadi lebih efisien.
RRPF merupakan perusahaan patungan antara produsen mesin pesawat asal Inggris Rolls-Royce dan perusahaan Amerika Serikat GATX. Perusahaan tersebut memiliki pengalaman panjang dalam pembiayaan, penyewaan, dan pengelolaan mesin pesawat untuk berbagai operator penerbangan dunia. Portofolio globalnya mencakup lebih dari 1.000 mesin yang berada dalam skema penyewaan maupun pengelolaan dan melayani lebih dari 50 pelanggan maskapai. Ekspansi ke Tianjin memberikan perusahaan basis lokal untuk menjalankan kegiatan intinya di pasar China. Selain penyewaan mesin, entitas baru tersebut akan menyediakan pengelolaan aset dan pelayanan yang mencakup seluruh siklus hidup mesin. Strategi ini memperlihatkan semakin pentingnya pasar China dalam pengembangan bisnis penyewaan aset penerbangan global.
Kesepakatan pembentukan perusahaan tersebut ditandatangani bersama otoritas Tianjin Dongjiang pada 3 September 2026 dalam rangkaian China Aviation Finance International Forum 2026. Proyek itu disebut menjadi model pertama di China yang memungkinkan perusahaan asing besar dalam industri penyewaan penerbangan memiliki aset mesin secara langsung untuk menjalankan operasi lokal. Kepemilikan aset, pembiayaan, pengelolaan, dan mesin secara fisik nantinya dapat ditempatkan di dalam negeri. Perubahan tersebut memangkas sejumlah tahapan yang sebelumnya harus dilakukan dalam transaksi penyewaan lintas negara. Maskapai China diharapkan memperoleh proses transaksi yang lebih sederhana ketika membutuhkan tambahan mesin. Bagi Tianjin, investasi tersebut sekaligus menjadi perkembangan baru dalam inovasi pembiayaan industri penerbangan.
Dalam skema tradisional, perusahaan asing biasanya harus membentuk perusahaan proyek di kawasan berikat China sebelum mesin dapat disewakan kepada maskapai domestik. Perusahaan proyek kemudian menyewa mesin dari pemilik di luar negeri dan meneruskannya kepada operator penerbangan di China. Untuk sejumlah transaksi, pembentukan entitas baru dapat diperlukan sehingga proses administratif menjadi relatif panjang. Perusahaan proyek tersebut umumnya mempunyai hak penggunaan, sementara kepemilikan aset tetap berada di luar China. Kondisi itu dapat membuat proses pemeliharaan, pengelolaan aset, pembayaran lintas negara, dan transaksi valuta asing menjadi lebih kompleks. Model baru yang diterapkan RRPF dirancang untuk mengurangi sejumlah lapisan transaksi tersebut.
Penempatan kepemilikan mesin di China diperkirakan memberikan keuntungan operasional kepada maskapai yang menjadi pelanggan. Proses penyewaan dapat dilakukan secara lebih langsung tanpa harus melewati terlalu banyak perantara dan struktur perusahaan proyek. Pengelolaan valuta asing juga berpotensi menjadi lebih sederhana karena sejumlah aktivitas pembiayaan dan pengelolaan aset dilakukan di dalam negeri. Efisiensi tersebut dapat membantu menekan biaya transaksi sekaligus memberikan kepastian lebih besar terhadap ketersediaan mesin. Dalam industri penerbangan, mesin merupakan aset bernilai tinggi dan ketersediaannya sangat menentukan kemampuan maskapai mempertahankan jadwal penerbangan. Sistem penyewaan yang lebih dekat dengan operator karena itu dapat memberikan keuntungan ketika maskapai membutuhkan mesin pengganti atau tambahan dengan cepat.
Chief Strategy Officer RRPF Ben Hughes melihat China sebagai pasar yang mempunyai prospek pertumbuhan jangka panjang. Besarnya jumlah penumpang, ekspansi jaringan penerbangan, dan kebutuhan maskapai memperbarui armada menjadi sejumlah faktor yang menciptakan permintaan terhadap layanan pendukung penerbangan. Bertambahnya armada secara langsung meningkatkan kebutuhan terhadap mesin cadangan, perawatan, pembiayaan, dan pengelolaan aset sepanjang masa operasional pesawat. RRPF ingin membangun struktur bisnis yang lebih dekat dengan pelanggan agar mampu merespons kebutuhan tersebut secara efisien. Perusahaan juga berencana memanfaatkan tenaga kerja lokal dalam pengembangan operasinya. Kehadiran tim di China diharapkan mempercepat pengambilan keputusan dan meningkatkan pemahaman terhadap kebutuhan pelanggan domestik.
Tianjin Dongjiang dipilih karena kawasan tersebut telah berkembang menjadi salah satu pusat utama industri penyewaan penerbangan di China. Kawasan itu mempunyai ekosistem yang mencakup pembiayaan, pengelolaan aset, kepabeanan, hingga berbagai layanan pendukung transaksi penerbangan. Hingga akhir Agustus 2026, lebih dari 2.600 pesawat dan lebih dari 300 mesin pesawat telah difasilitasi melalui kegiatan penyewaan di kawasan tersebut. Skala tersebut menempatkan Dongjiang sebagai salah satu kelompok industri penyewaan pesawat terbesar di dunia. Kehadiran perusahaan internasional dengan kepemilikan aset langsung diperkirakan semakin memperkuat posisi kawasan tersebut dalam industri pembiayaan penerbangan. Model bisnis baru itu juga dapat menjadi referensi bagi perusahaan asing lainnya yang ingin meningkatkan operasi di China.
Peluang bisnis mesin pesawat di China turut diperkuat oleh besarnya armada yang menggunakan produk Rolls-Royce. Terdapat hampir 360 pesawat bertenaga mesin Rolls-Royce yang beroperasi di China, termasuk armada Airbus A330 dan A350. Jumlah tersebut berpotensi berubah mengikuti pesanan baru yang dilakukan maskapai-maskapai besar China. Air China dan China Eastern antara lain telah menambah rencana armada pesawat berbadan lebar yang menggunakan keluarga mesin Rolls-Royce. Penambahan pesawat akan menciptakan kebutuhan layanan mesin dalam jangka panjang, mulai dari penyewaan hingga pemeliharaan dan pengelolaan aset. Kondisi tersebut memberikan alasan komersial bagi RRPF untuk mempunyai basis operasi yang lebih dekat dengan pelanggan.
Industri penyewaan mesin mempunyai peran berbeda tetapi saling melengkapi dengan bisnis penyewaan pesawat secara keseluruhan. Maskapai tidak selalu memilih membeli mesin tambahan karena harga aset tersebut sangat tinggi dan kebutuhan dapat berubah mengikuti jadwal perawatan maupun kondisi armada. Penyewaan memungkinkan operator memperoleh mesin dalam periode tertentu tanpa harus mengeluarkan investasi besar untuk kepemilikan. Kebutuhan tersebut semakin penting ketika sebuah mesin harus menjalani perawatan dalam waktu panjang sementara pesawat tetap dibutuhkan untuk melayani penerbangan. Perusahaan penyewaan kemudian menyediakan aset pengganti agar pesawat dapat kembali beroperasi. Karena itu, pertumbuhan armada China memberikan peluang tidak hanya kepada produsen pesawat dan mesin, tetapi juga perusahaan pembiayaan serta pengelolaan aset penerbangan.
Pembentukan entitas RRPF di Tianjin sekaligus mencerminkan perubahan pendekatan perusahaan penerbangan global terhadap pasar China. Perusahaan asing tidak lagi hanya menawarkan aset dari luar negeri, tetapi mulai membangun struktur kepemilikan dan pelayanan yang semakin terintegrasi dengan ekosistem domestik. Dengan investasi lebih dari 2,3 miliar yuan, RRPF akan menjadikan Tianjin sebagai platform untuk penyewaan mesin, pengelolaan aset, serta pelayanan siklus hidup yang lebih lengkap. Model tersebut diharapkan mengurangi biaya dan tahapan administratif bagi pelanggan sekaligus meningkatkan efisiensi pengelolaan aset perusahaan. Bagi China, proyek itu dapat memperkuat ekosistem pembiayaan penerbangan sekaligus menarik lebih banyak modal dan keahlian internasional. Perkembangan tersebut menunjukkan pasar penerbangan China tetap menjadi salah satu sasaran penting bagi perusahaan global yang mencari peluang pertumbuhan jangka panjang.





