Kabupaten Bogor, 18 September 2026 – Wakil Menteri Dalam Negeri Bima Arya Sugiarto mendorong pembangunan Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) Bogor Raya 1 menjadi percontohan nasional dalam menangani persoalan sampah perkotaan secara terintegrasi. Harapan tersebut disampaikan saat peletakan batu pertama pembangunan PSEL Bogor Raya 1 di kawasan TPA Galuga, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Kamis, 17 September 2026. Proyek ini diharapkan menjadi langkah awal untuk mengurai persoalan sampah yang telah berlangsung bertahun-tahun di Kota dan Kabupaten Bogor. Menurut Bima, keberhasilan proyek tidak hanya ditentukan oleh pembangunan fasilitas pengolahan, tetapi juga kesiapan seluruh ekosistem dari hulu hingga hilir. Pemerintah daerah karena itu diminta memastikan pasokan sampah, distribusi, dukungan masyarakat, perizinan, dan tata kelola berjalan secara konsisten. Jika seluruh tahapan dapat berjalan dengan baik, model Bogor Raya diharapkan dapat diterapkan di kota-kota besar lainnya di Indonesia.
Bima menilai persoalan sampah di Bogor Raya merupakan pekerjaan rumah yang telah berlangsung lintas periode pemerintahan daerah. Timbulan sampah dari Kabupaten Bogor dan Kota Bogor secara keseluruhan disebut dapat mencapai sekitar 4.000 ton setiap hari. Besarnya volume tersebut membuat penyelesaian dengan pendekatan konvensional dinilai membutuhkan dukungan sistem pengelolaan yang lebih terintegrasi. Permasalahan menjadi semakin kompleks karena Bogor merupakan kawasan dengan aktivitas penduduk tinggi sekaligus salah satu tujuan pariwisata dan kegiatan MICE. Pengelolaan sampah yang tidak optimal juga dapat menimbulkan dampak lingkungan yang meluas ke wilayah lain. Kondisi itu menjadi salah satu alasan pemerintah mendorong percepatan pembangunan fasilitas pengolahan yang mampu mengurangi ketergantungan terhadap tempat pembuangan akhir.
PSEL Bogor Raya 1 dirancang memiliki kapasitas pengolahan lebih dari 500.000 ton sampah per tahun. Nilai investasi proyek tersebut diperkirakan mencapai sekitar Rp2,8 triliun. Selain mengurangi volume sampah yang harus ditimbun, fasilitas tersebut diproyeksikan menghasilkan energi hijau yang dapat menyuplai kebutuhan listrik lebih dari 100.000 rumah di kawasan Bogor Raya. Pengoperasian fasilitas juga diperkirakan dapat mengurangi kebutuhan lahan tempat pembuangan akhir hingga sekitar 80 persen. Skala proyek tersebut membuat keberhasilan operasionalnya berpotensi memberikan dampak besar terhadap pola penanganan sampah Kota dan Kabupaten Bogor. Namun, pencapaian target tetap membutuhkan kepastian pasokan sampah dan kesiapan infrastruktur pendukung setelah fasilitas selesai dibangun.
Bima menegaskan peletakan batu pertama bukan merupakan akhir dari upaya menyelesaikan persoalan sampah di Bogor Raya. Tahap tersebut justru menjadi awal dari rangkaian panjang pembangunan hingga fasilitas benar-benar dapat beroperasi secara optimal. Pemerintah Kota Bogor dan Pemerintah Kabupaten Bogor diminta mengawal seluruh proses dan memastikan tidak muncul hambatan pada tahapan berikutnya. Kepastian distribusi sampah menuju fasilitas menjadi salah satu aspek yang harus dipersiapkan sejak awal. Pemerintah daerah juga perlu memastikan dukungan masyarakat serta penyelesaian perizinan dan tata kelola proyek. Menurut Bima, keberhasilan PSEL baru dapat dinilai ketika seluruh sistem telah berjalan dan memberikan dampak terhadap persoalan sampah di lapangan.
Kementerian Dalam Negeri menyatakan siap membantu pemerintah daerah apabila muncul hambatan selama proses pembangunan maupun persiapan operasional PSEL. Fasilitasi dapat dilakukan apabila terdapat persoalan terkait pasokan dan distribusi sampah, perizinan, maupun tata kelola. Pemerintah Provinsi Jawa Barat juga didorong memperkuat koordinasi antara pemerintah provinsi, Pemerintah Kabupaten Bogor, dan Pemerintah Kota Bogor. Koordinasi lintas wilayah dianggap penting karena pengelolaan sampah Bogor Raya tidak dapat dijalankan secara terpisah. Setiap pemerintah daerah mempunyai peran dalam memastikan sistem pengumpulan hingga pengiriman sampah menuju fasilitas dapat berjalan sesuai kapasitas yang direncanakan. Sinkronisasi kebijakan diharapkan dapat mengurangi potensi hambatan ketika PSEL mulai memasuki tahap operasional.
Pengembangan PSEL Bogor Raya juga menjadi bagian dari upaya memperluas penggunaan teknologi dalam penanganan sampah. Sampah yang sebelumnya sebagian besar berakhir di tempat pembuangan dapat dimanfaatkan menjadi sumber energi melalui proses pengolahan yang dirancang khusus. Pendekatan tersebut diharapkan membantu mengurangi beban TPA sekaligus menghasilkan manfaat tambahan berupa energi listrik. Namun, keberadaan teknologi tidak menghilangkan kebutuhan untuk memperkuat pengelolaan sampah sejak dari sumbernya. Pemilahan, pengumpulan, pengangkutan, serta pengurangan timbulan sampah tetap menjadi bagian penting dari sistem secara keseluruhan. Karena itu, pemerintah daerah dituntut membangun ekosistem yang tidak hanya bergantung pada fasilitas pengolahan di bagian hilir.
Pemerintah Jawa Barat sebelumnya telah terlibat dalam persiapan pembangunan PSEL untuk kawasan Bogor Raya. Pada April 2026, Pemerintah Provinsi Jawa Barat menandatangani kerja sama pengelolaan sampah Bogor Raya dengan badan usaha pengembang dan pengelola PSEL. Proyek Bogor Raya menjadi salah satu program pengolahan sampah menjadi energi yang dikembangkan bersama proyek serupa di Bekasi dan Bali. Pemerintah menempatkan proyek-proyek tersebut sebagai bagian dari percepatan penanganan persoalan sampah di berbagai daerah. Pemerintah Provinsi Jawa Barat juga menyatakan akan mengawal pembangunan fasilitas untuk Kota Bogor dan Kabupaten Bogor. Langkah tersebut memperlihatkan bahwa pengoperasian PSEL membutuhkan kolaborasi pemerintah pusat, provinsi, kabupaten, kota, badan usaha, dan pemangku kepentingan lainnya.
Bima juga menyoroti keterkaitan persoalan lingkungan Bogor dengan wilayah sekitarnya, termasuk Jakarta. Posisi Bogor sebagai kawasan hulu membuat pengelolaan lingkungan di wilayah tersebut memiliki pengaruh terhadap daerah yang berada di bawahnya. Persoalan sampah yang tidak tertangani dengan baik dapat memperburuk kualitas sungai dan saluran air serta meningkatkan berbagai risiko lingkungan. Karena itu, penanganan sampah di Bogor Raya dipandang memiliki kepentingan yang lebih luas dibandingkan batas administratif Kota dan Kabupaten Bogor. PSEL diharapkan menjadi salah satu instrumen untuk mengurangi beban sampah yang selama ini harus ditangani melalui tempat pembuangan. Meski demikian, pengelolaan lingkungan tetap membutuhkan pendekatan menyeluruh yang mencakup pencegahan, pengurangan, pemilahan, pengangkutan, hingga pengolahan akhir.
Keberhasilan PSEL Bogor Raya 1 nantinya akan sangat bergantung pada konsistensi pengelolaan setelah pembangunan fisik selesai. Fasilitas dengan kapasitas besar membutuhkan pasokan sampah yang stabil sekaligus sistem logistik yang mampu mengirimkan material secara teratur. Pemerintah daerah juga perlu menjaga komunikasi dengan masyarakat yang berada di sekitar fasilitas maupun wilayah pelayanan. Pengawasan lingkungan menjadi bagian penting agar operasional PSEL tetap memenuhi ketentuan yang berlaku. Tata kelola keuangan, kontrak, dan pelayanan juga perlu dilakukan secara transparan sehingga manfaat proyek dapat diukur secara jelas. Faktor-faktor tersebut akan menentukan apakah PSEL Bogor Raya benar-benar dapat menjadi model yang layak direplikasi oleh daerah lain.
Bima berharap PSEL Bogor Raya 1 dapat membuktikan efektivitas pendekatan pengelolaan sampah perkotaan yang terintegrasi. Pemerintah pusat melalui Kemendagri akan terus mendorong koordinasi agar berbagai hambatan yang muncul dapat diselesaikan bersama pemerintah daerah. Presiden Prabowo Subianto juga disebut berencana mengundang para kepala daerah untuk membahas sejumlah agenda, termasuk program PSEL. Jika proyek Bogor Raya mampu berjalan sesuai rencana, pengalaman pembangunan dan pengoperasiannya dapat menjadi referensi bagi kota-kota lain yang menghadapi persoalan sampah serupa. Tantangan berikutnya bukan hanya menyelesaikan konstruksi, tetapi memastikan fasilitas dapat beroperasi secara berkelanjutan dan memberikan manfaat nyata. PSEL Bogor Raya dengan demikian diarahkan bukan sekadar menjadi proyek infrastruktur, tetapi bagian dari pembenahan sistem pengelolaan sampah perkotaan secara jangka panjang.





