Jakarta, 15 September 2026 – Misteri mengenai identitas salah satu awak ekspedisi Franklin akhirnya berhasil dipecahkan setelah lebih dari satu setengah abad melalui analisis DNA. Penelitian tersebut memungkinkan ilmuwan menghubungkan sisa-sisa manusia yang ditemukan di wilayah Arktik Kanada dengan salah satu anggota ekspedisi yang hilang pada abad ke-19. Identifikasi dilakukan dengan membandingkan materi genetik dari temuan arkeologi dengan DNA kerabat yang masih memiliki hubungan keluarga. Hasil tersebut memberikan kepastian baru mengenai nasib individu yang sebelumnya hanya diketahui melalui catatan sejarah ekspedisi. Teknologi genetika modern membuat para peneliti dapat memperoleh informasi yang tidak mungkin diketahui ketika sisa-sisa tersebut pertama kali ditemukan. Temuan ini sekaligus menambah bagian penting dalam upaya panjang mengungkap apa yang terjadi terhadap rombongan ekspedisi Sir John Franklin.
Ekspedisi Franklin berangkat dari Inggris pada 1845 dengan tujuan menemukan jalur laut Northwest Passage yang menghubungkan Samudra Atlantik dan Pasifik melalui kawasan Arktik Amerika Utara. Rombongan menggunakan dua kapal, HMS Erebus dan HMS Terror, yang dipersiapkan untuk menghadapi perjalanan panjang melalui perairan penuh es. Sir John Franklin memimpin ekspedisi yang membawa 129 perwira dan awak. Setelah memasuki kawasan Arktik Kanada, komunikasi dengan rombongan tersebut akhirnya terputus. Tidak ada satu pun anggota ekspedisi yang diketahui kembali hidup ke Inggris. Hilangnya dua kapal beserta seluruh awak kemudian berkembang menjadi salah satu misteri eksplorasi maritim paling terkenal dalam sejarah.
Berbagai ekspedisi pencarian diluncurkan setelah Franklin dan anak buahnya tidak kunjung kembali. Penyelidik secara bertahap menemukan barang-barang, catatan, makam, serta sisa-sisa manusia yang memberikan petunjuk mengenai perjalanan terakhir rombongan. Salah satu dokumen penting menunjukkan bahwa kapal telah terjebak dalam es dan akhirnya ditinggalkan oleh awak yang masih bertahan hidup. Mereka kemudian mencoba melakukan perjalanan melalui daratan dalam kondisi Arktik yang sangat berat. Kelaparan, penyakit, suhu ekstrem, dan keterbatasan persediaan diperkirakan menjadi bagian dari faktor yang menyebabkan seluruh anggota rombongan akhirnya meninggal. Namun, identitas banyak sisa manusia yang ditemukan selama berbagai penelitian tetap tidak diketahui selama puluhan hingga lebih dari seratus tahun.
Kemajuan teknologi DNA kemudian membuka kemungkinan baru untuk mengidentifikasi para korban secara individual. Para peneliti dapat mengambil materi genetik dari tulang atau gigi yang masih memungkinkan untuk dianalisis. Sampel tersebut kemudian dibandingkan dengan DNA orang-orang yang diketahui memiliki hubungan keturunan dengan anggota ekspedisi Franklin. Prosesnya tidak sederhana karena materi biologis telah berada dalam kondisi lingkungan ekstrem selama lebih dari satu abad. Kontaminasi juga harus dicegah agar hasil pengujian tidak memberikan kesimpulan yang keliru. Karena itu, setiap kecocokan membutuhkan pemeriksaan genetika dan silsilah keluarga secara hati-hati.
Keterlibatan keturunan keluarga awak Franklin menjadi bagian penting dalam proses identifikasi. Para peneliti membutuhkan sampel pembanding agar profil DNA dari sisa manusia dapat dikaitkan dengan individu tertentu yang tercatat dalam daftar ekspedisi. Penelusuran silsilah digunakan untuk mencari keluarga yang masih memiliki garis keturunan relevan setelah beberapa generasi. Ketika kandidat ditemukan, sampel DNA dapat digunakan untuk menguji kemungkinan hubungan biologis. Metode tersebut memungkinkan nama yang selama puluhan tahun hanya terdapat dalam dokumen sejarah akhirnya dikaitkan dengan sisa fisik yang ditemukan di kawasan Arktik. Identifikasi juga memberikan keluarga kesempatan mengetahui lebih banyak mengenai nasib kerabat mereka.
Analisis terhadap sisa-sisa awak ekspedisi Franklin memiliki arti lebih luas daripada sekadar menentukan identitas seseorang. Lokasi penemuan dapat membantu peneliti merekonstruksi jalur yang ditempuh awak setelah meninggalkan kapal. Setiap individu yang berhasil dikenali memberikan tambahan informasi mengenai bagaimana rombongan bergerak dan berusaha bertahan hidup. Temuan tersebut dapat dibandingkan dengan catatan tertulis, artefak, serta bukti arkeologi lainnya. Dengan menggabungkan berbagai sumber informasi, peneliti dapat membangun gambaran yang semakin rinci mengenai hari-hari terakhir ekspedisi. Penelitian genetika dengan demikian menjadi bagian dari penyelidikan sejarah dan arkeologi yang lebih luas.
Misteri Franklin juga memperoleh titik terang besar setelah kedua kapal ekspedisi ditemukan pada abad ke-21. Bangkai HMS Erebus ditemukan pada 2014, sementara HMS Terror ditemukan dua tahun kemudian. Penemuan tersebut memungkinkan penelitian dilakukan langsung terhadap kapal yang selama lebih dari 160 tahun tidak diketahui keberadaannya. Kondisi perairan Arktik membantu mempertahankan sejumlah bagian kapal dan artefak yang berada di dalamnya. Peneliti kemudian menggunakan teknologi pemetaan, penyelaman, dan dokumentasi untuk memeriksa berbagai bagian bangkai kapal. Temuan dari kapal dapat dikombinasikan dengan penelitian terhadap lokasi di daratan yang pernah dilalui awak.
Sejumlah teori mengenai penyebab kematian anggota ekspedisi juga berkembang selama bertahun-tahun. Selain kelaparan dan paparan suhu ekstrem, penelitian pernah mempertimbangkan penyakit, kekurangan nutrisi, hingga kemungkinan keracunan sebagai faktor yang memperburuk kondisi awak. Bukti pada beberapa sisa manusia bahkan menunjukkan bahwa anggota rombongan menghadapi keadaan yang sangat ekstrem ketika persediaan makanan semakin menipis. Namun, tidak semua teori memiliki tingkat bukti yang sama dan penelitian terus dilakukan untuk membedakan faktor utama dengan kondisi yang hanya berkontribusi. Kompleksitas tersebut membuat kehancuran ekspedisi Franklin kemungkinan tidak dapat dijelaskan melalui satu penyebab tunggal. Lingkungan Arktik, kondisi kesehatan, logistik, dan keputusan perjalanan semuanya perlu dipertimbangkan.
Keberhasilan identifikasi melalui DNA memperlihatkan bagaimana perkembangan ilmu pengetahuan dapat digunakan untuk menjawab pertanyaan sejarah setelah beberapa generasi berlalu. Teknik genetika yang awalnya berkembang terutama untuk kebutuhan medis dan forensik kini juga memainkan peran penting dalam arkeologi. Sisa manusia yang sebelumnya tidak dapat dikenali dapat diperiksa kembali ketika tersedia teknologi dan sampel pembanding yang lebih baik. Pendekatan tersebut tetap membutuhkan perhatian terhadap aspek etika, terutama karena penelitian berhubungan dengan jenazah dan keluarga keturunan. Kerja sama dengan komunitas serta pihak yang memiliki hubungan dengan lokasi penemuan juga menjadi bagian penting dalam penelitian di kawasan Arktik Kanada.
Terungkapnya identitas awak Franklin setelah sekitar 166 tahun menambah satu jawaban baru dalam misteri ekspedisi yang telah menarik perhatian selama beberapa generasi. Masih terdapat banyak pertanyaan mengenai perjalanan terakhir para awak setelah HMS Erebus dan HMS Terror terjebak dalam es dan ditinggalkan. Namun, setiap identifikasi memberikan kesempatan untuk mengubah sisa manusia yang sebelumnya tidak dikenal menjadi individu dengan nama dan riwayat kehidupan. Analisis DNA diperkirakan akan terus digunakan terhadap temuan lain apabila tersedia materi genetik dan keluarga pembanding yang sesuai. Dikombinasikan dengan penelitian terhadap bangkai kapal serta lokasi arkeologi di daratan, teknologi tersebut dapat semakin memperjelas nasib ekspedisi Franklin. Lebih dari satu setengah abad setelah tragedi berlangsung, ilmu pengetahuan modern terus membuka bagian-bagian baru dari salah satu kisah eksplorasi paling terkenal di dunia.





