Jakarta, 29 Agustus 2026 – Kepolisian Negara Republik Indonesia mengingatkan para orang tua untuk meningkatkan pengawasan terhadap anak dalam berbagai aktivitas sehari-hari. Imbauan tersebut disampaikan sebagai bagian dari upaya mencegah anak menjadi korban tindak kejahatan, kekerasan, maupun berbagai bentuk ancaman yang dapat terjadi di lingkungan rumah dan ruang publik. Polri menilai perlindungan anak tidak hanya menjadi tanggung jawab aparat penegak hukum, tetapi membutuhkan keterlibatan keluarga, sekolah, masyarakat, dan berbagai pihak terkait. Pengawasan yang dilakukan secara konsisten dinilai dapat membantu orang tua mengenali potensi bahaya lebih awal dan mengambil langkah pencegahan sebelum terjadi sesuatu yang tidak diinginkan.
Polri menekankan bahwa keluarga merupakan lingkungan pertama yang memiliki peran penting dalam menjaga keselamatan anak. Orang tua diharapkan mengetahui aktivitas anak, lingkungan pergaulan, serta orang-orang yang berinteraksi dengan mereka. Pengawasan juga perlu disesuaikan dengan usia dan tingkat kemandirian anak agar tidak berubah menjadi pembatasan yang berlebihan. Dengan komunikasi yang terbuka, anak dapat merasa lebih aman untuk menyampaikan pengalaman, masalah, atau situasi yang membuat mereka tidak nyaman kepada orang tua maupun orang dewasa yang dipercaya.
Pengawasan terhadap anak juga perlu dilakukan ketika mereka menggunakan perangkat digital dan mengakses internet. Perkembangan teknologi membuat anak dapat berinteraksi dengan orang yang tidak dikenal melalui berbagai platform tanpa harus bertemu secara langsung. Kondisi tersebut menghadirkan risiko baru seperti penipuan, perundungan daring, manipulasi, hingga eksploitasi anak. Orang tua perlu memahami kebiasaan digital anak dan memberikan edukasi mengenai informasi apa yang boleh dibagikan, siapa yang dapat dipercaya, serta bagaimana mengambil tindakan ketika menemukan komunikasi atau konten yang mencurigakan.
Selain lingkungan digital, keselamatan anak di ruang publik juga membutuhkan perhatian. Anak yang beraktivitas di luar rumah perlu mengetahui cara mengenali situasi berbahaya dan memahami kepada siapa mereka harus meminta pertolongan. Orang tua dapat mengajarkan informasi dasar seperti mengenali identitas orang yang menjemput, menghafalkan nomor telepon penting, serta tidak mudah mengikuti ajakan orang yang tidak dikenal. Edukasi tersebut perlu diberikan secara berulang dengan bahasa sederhana agar dapat dipahami dan diterapkan anak dalam situasi nyata.
Polri juga mendorong masyarakat untuk ikut menciptakan lingkungan yang aman bagi anak. Keberadaan masyarakat yang peduli dapat membantu mencegah terjadinya tindak kekerasan atau kejahatan terhadap anak, terutama di lingkungan permukiman. Warga diharapkan tidak bersikap acuh ketika melihat situasi yang mencurigakan dan dapat segera melaporkannya kepada pihak berwenang apabila terdapat indikasi bahaya. Kepedulian lingkungan menjadi penting karena tidak semua aktivitas anak dapat diawasi orang tua setiap saat.
Di lingkungan sekolah, pengawasan juga perlu dilakukan melalui kerja sama antara guru, tenaga kependidikan, orang tua, dan peserta didik. Sekolah harus menjadi ruang yang aman bagi anak untuk belajar dan berinteraksi. Apabila muncul tanda-tanda perundungan, kekerasan, atau perubahan perilaku yang tidak biasa, kondisi tersebut perlu segera diperhatikan dan ditangani. Komunikasi antara sekolah dan keluarga dapat membantu memastikan masalah yang dialami anak tidak berkembang menjadi persoalan yang lebih serius.
Orang tua juga diminta tidak hanya berfokus pada pengawasan secara fisik, tetapi memperhatikan perubahan perilaku anak. Anak yang mengalami tekanan atau menjadi korban kekerasan dapat menunjukkan tanda-tanda tertentu seperti perubahan suasana hati, menarik diri, takut terhadap orang atau tempat tertentu, hingga mengalami perubahan pola tidur dan aktivitas. Tidak semua perubahan tersebut otomatis berarti anak menjadi korban kejahatan, tetapi kondisi yang berlangsung terus-menerus perlu mendapatkan perhatian. Pendekatan yang tenang dan tidak menghakimi dapat membuat anak lebih nyaman untuk bercerita mengenai apa yang mereka alami.
Dalam upaya perlindungan anak, komunikasi menjadi salah satu unsur yang sangat penting. Orang tua perlu membangun hubungan yang membuat anak mengetahui bahwa mereka dapat meminta bantuan ketika menghadapi masalah. Anak juga perlu diajarkan bahwa mereka memiliki hak untuk merasa aman dan berhak menolak perlakuan yang membuat mereka tidak nyaman. Pemahaman tersebut dapat membantu anak mengenali batasan pribadi sekaligus meningkatkan keberanian untuk mencari pertolongan apabila menghadapi ancaman atau tindakan kekerasan.
Polri menilai pencegahan akan lebih efektif apabila dilakukan secara bersama-sama dan tidak hanya mengandalkan penindakan setelah kejahatan terjadi. Aparat kepolisian memiliki peran dalam penegakan hukum dan perlindungan masyarakat, sementara keluarga memiliki posisi paling dekat dengan kehidupan anak. Sekolah dan masyarakat juga memiliki peran dalam menciptakan lingkungan yang aman. Kolaborasi seluruh unsur tersebut diperlukan agar potensi ancaman terhadap anak dapat diketahui lebih cepat dan penanganannya dapat dilakukan secara tepat.
Keselamatan anak pada akhirnya merupakan tanggung jawab bersama yang membutuhkan perhatian berkelanjutan. Orang tua diharapkan meningkatkan pengawasan tanpa mengabaikan kebutuhan anak untuk tumbuh mandiri, sementara masyarakat dan institusi pendidikan perlu menciptakan lingkungan yang mendukung keamanan serta perkembangan mereka. Polri mengajak seluruh pihak untuk tidak menunggu sampai terjadi peristiwa yang merugikan anak sebelum mengambil tindakan. Dengan pengawasan, komunikasi, edukasi, dan kepedulian yang dilakukan secara konsisten, perlindungan terhadap anak dapat diperkuat sehingga mereka dapat tumbuh dan beraktivitas dalam lingkungan yang lebih aman.





