Lampung Selatan, 19 September 2026 – Operasi pencarian lima jurnalis dan tiga awak kapal yang hilang kontak di perairan Selat Sunda menyimpan cerita perjuangan para personel SAR yang terlibat langsung di lapangan. Selama 10 hari operasi, tim gabungan harus menghadapi kondisi laut yang berubah-ubah, gelombang, angin kencang hingga ancaman abu vulkanik dari aktivitas Gunung Anak Krakatau. Salah satu personel yang menceritakan pengalaman tersebut adalah Komandan Pos SAR Bakauheni Kantor SAR Lampung, Rezie Kuswara Nunyai. Ia memimpin Rigid Inflatable Boat (RIB) 02 Bakauheni dalam penyisiran sejumlah sektor perairan. Pencarian dilakukan sejak rombongan yang membawa lima jurnalis dan tiga awak kapal dilaporkan hilang kontak pada 7 September 2026. Operasi resmi akhirnya dihentikan pada 17 September setelah pencarian selama 10 hari belum menemukan para korban.
Rombongan tersebut berangkat dari kawasan Carita, Kabupaten Pandeglang, Banten, pada Senin, 7 September 2026, menggunakan speedboat Arupadhatu 1 untuk melakukan peliputan aktivitas Gunung Anak Krakatau. Kapal membawa delapan orang yang terdiri atas lima jurnalis serta tiga awak dan pemandu. Mereka adalah M. Bagus Khoirunnas, Arie Basuki, Yudistiro Pranoto, Firdaus Wajidi dan Donal Husni, sedangkan tiga lainnya adalah Warta selaku nakhoda, Surakman sebagai anak buah kapal dan Heriyanto sebagai pemandu. Rombongan sempat mengirimkan lokasi terakhir sebelum komunikasi kemudian terputus. Laporan mengenai hilangnya kontak tersebut selanjutnya memicu operasi pencarian besar di kawasan Selat Sunda. Sejumlah unsur Basarnas, TNI AL, Polairud dan instansi lainnya dikerahkan untuk menyisir laut serta pulau-pulau di sekitar kawasan Gunung Anak Krakatau.
Bagi Rezie dan personel yang menggunakan RIB 02 Bakauheni, operasi tersebut bukan pencarian biasa karena kawasan yang harus disisir berada di sekitar gunung api aktif. Kondisi perairan dapat berubah dalam waktu singkat sehingga awak kapal harus terus memperhatikan keselamatan selama menjalankan misi. Gelombang dan angin menjadi tantangan ketika kapal berukuran relatif kecil harus menempuh sektor pencarian yang luas. Pada waktu tertentu, aktivitas Gunung Anak Krakatau juga menghasilkan abu vulkanik yang menjadi hambatan tambahan bagi personel. Situasi tersebut membuat perjalanan menuju beberapa titik pencarian membutuhkan kewaspadaan tinggi. Meski menghadapi kondisi yang tidak mudah, penyisiran terus dilakukan karena setiap petunjuk memiliki kemungkinan berkaitan dengan keberadaan delapan orang yang dicari.
Luasnya Selat Sunda menjadi tantangan lain yang harus dihadapi tim gabungan. Pada tahap tertentu, area pencarian bahkan mencapai sekitar 6.649 mil laut persegi sebelum kemudian dipersempit menjadi sekitar 3.652 mil laut persegi. Penyempitan dilakukan berdasarkan pemodelan SARMAP Basarnas yang dikombinasikan dengan data Pusat Hidro-Oseanografi TNI Angkatan Laut. Perhitungan tersebut mempertimbangkan arah dan pergerakan arus untuk memperkirakan kemungkinan lokasi korban maupun benda yang terbawa laut. Tim kemudian memusatkan perhatian pada sektor yang dinilai memiliki probabilitas lebih tinggi, termasuk kawasan yang sebelumnya menjadi lokasi ditemukannya sejumlah barang. Penyisiran daratan di kawasan pesisir Carita hingga Anyer juga dilakukan untuk melengkapi pencarian di laut.
Berbagai armada dilibatkan untuk memperluas jangkauan pencarian. Pada tahap awal, unsur yang dikerahkan antara lain KN SAR Tetuka, KRI Leuser, KRI Lepu, KAL Anyer, RBB Peucang, RIB Basarnas Banten dan Lampung serta kapal Polairud. TNI Angkatan Laut kemudian memperkuat operasi dengan sejumlah kapal perang dan unsur pendukung lainnya. Setiap armada memperoleh sektor penyisiran agar wilayah pencarian dapat dijangkau secara terkoordinasi. Personel juga memeriksa pulau-pulau di sekitar kawasan Gunung Anak Krakatau, termasuk wilayah yang dinilai memungkinkan menjadi lokasi korban berlindung atau terbawa arus. Masyarakat pesisir dan nelayan turut diminta membantu dengan segera melaporkan apabila menemukan benda yang diduga berkaitan dengan rombongan.
Sejumlah temuan selama operasi sempat memberikan harapan baru, meskipun belum dapat memastikan keberadaan korban. Pada hari kesembilan pencarian, tim gabungan menemukan terpal berwarna hijau yang terbawa arus di sekitar wilayah operasi. Temuan tersebut kemudian diperiksa untuk mengetahui kemungkinan keterkaitannya dengan kapal maupun rombongan yang hilang. Sebelumnya, pencarian juga diarahkan pada berbagai barang yang ditemukan di perairan dan pesisir. Setiap benda harus diperiksa karena arus Selat Sunda dapat membawa material cukup jauh dari titik awal. Kondisi tersebut menjadi salah satu alasan pencarian menggunakan pemodelan pergerakan arus dan informasi oseanografi. Hingga berakhirnya operasi resmi, berbagai temuan tersebut belum menghasilkan petunjuk yang cukup untuk menemukan delapan orang yang hilang.
Misi tersebut juga mendapatkan dukungan dari masyarakat pesisir yang ikut memantau laut di sekitar tempat tinggal mereka. Warga di kawasan Pantai Carita dan sejumlah nelayan membantu pencarian sebagai bentuk kepedulian terhadap para jurnalis dan awak kapal. Pengetahuan nelayan mengenai karakter perairan setempat dinilai dapat membantu ketika tim harus memeriksa lokasi tertentu. Di tengah pencarian, keluarga dan rekan-rekan jurnalis juga terus menunggu perkembangan dari posko operasi. Harapan agar seluruh rombongan ditemukan dalam keadaan selamat terus disampaikan selama operasi berlangsung. Solidaritas kemudian meluas di kalangan komunitas pers melalui doa bersama dan dukungan terhadap keluarga.
Setelah pencarian berlangsung selama 10 hari tanpa temuan signifikan mengenai keberadaan korban, tim SAR gabungan akhirnya menghentikan operasi resmi pada Kamis, 17 September 2026. Keputusan tersebut diambil setelah evaluasi bersama di Posko SAR Nasional di Carita, Pandeglang. Penghentian operasi bukan berarti kemungkinan pencarian tertutup sepenuhnya. Basarnas dapat kembali membuka operasi apabila muncul informasi atau petunjuk baru yang dinilai relevan dengan keberadaan korban. Karena itu, warga dan nelayan di sepanjang pesisir Banten hingga Lampung tetap diminta memberikan informasi apabila menemukan barang atau tanda yang mencurigakan. Komunitas jurnalis juga terus menjaga komunikasi dengan masyarakat untuk memperoleh kemungkinan petunjuk baru.
Sepuluh hari pencarian meninggalkan pengalaman mendalam bagi personel yang terlibat, termasuk tim RIB 02 Bakauheni yang harus menghadapi kerasnya kondisi Selat Sunda. Gelombang, perubahan cuaca, luasnya wilayah operasi hingga abu vulkanik menjadi bagian dari tantangan ketika mereka menyisir kemungkinan lokasi rombongan. Puluhan kapal dan berbagai unsur gabungan telah dikerahkan, sementara pencarian juga diperluas ke sejumlah pulau dan kawasan pesisir. Meski operasi resmi telah berakhir tanpa menemukan lima jurnalis dan tiga awak kapal, harapan dari keluarga, rekan sejawat serta tim penyelamat belum sepenuhnya padam. Informasi baru dari masyarakat masih dapat menjadi dasar untuk melakukan tindak lanjut dan membuka kembali operasi pencarian. Cerita di balik misi tersebut sekaligus menggambarkan risiko yang dihadapi petugas penyelamat ketika bekerja di laut serta perjuangan panjang mencari orang-orang yang hilang saat menjalankan tugas peliputan.





