Ponorogo, 18 September 2026 – Presiden Prabowo Subianto menegaskan kemandirian pangan dan energi merupakan fondasi penting bagi kekuatan Indonesia dalam menghadapi dinamika global yang penuh ketidakpastian. Pesan tersebut disampaikan saat menghadiri rangkaian peringatan 100 tahun Pondok Modern Darussalam Gontor di Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur. Prabowo menilai konflik dan peperangan di berbagai kawasan menunjukkan pentingnya sebuah negara memiliki kemampuan memenuhi kebutuhan strategis masyarakat dengan kekuatan sendiri. Ketergantungan berlebihan terhadap negara lain dinilai dapat menjadi kerentanan ketika rantai pasok global mengalami gangguan. Karena itu, pemerintah menempatkan swasembada pangan dan energi sebagai bagian penting dari agenda pembangunan nasional. Kemandirian tersebut diharapkan memberikan ruang lebih besar bagi Indonesia dalam menentukan kebijakan sesuai kepentingan nasional.
Dalam sektor pangan, Prabowo menyatakan Indonesia telah memiliki cadangan pangan yang mencukupi dan pemerintah terus memperkuat produksi dalam negeri. Pemerintah juga menyiapkan langkah antisipasi menghadapi risiko cuaca seperti El Nino dan kekeringan yang dapat memengaruhi hasil pertanian. Peningkatan produktivitas petani, ketersediaan pupuk, pengelolaan irigasi dan kepastian harga hasil panen menjadi bagian dari strategi menjaga ketahanan pangan. Pemerintah ingin kebutuhan pokok masyarakat sebisa mungkin dipenuhi melalui kemampuan produksi nasional. Kebijakan tersebut sekaligus diarahkan untuk meningkatkan kesejahteraan petani dan memperkuat perekonomian di daerah. Ketahanan pangan dipandang tidak hanya sebagai persoalan ekonomi, tetapi juga menyangkut kemampuan negara menghadapi tekanan eksternal.
Pada sektor energi, Prabowo menyoroti besarnya sumber daya alam yang dapat dimanfaatkan Indonesia untuk mengurangi ketergantungan terhadap impor. Kelapa sawit menjadi salah satu komoditas yang dinilai memiliki potensi strategis karena dapat diolah menjadi bahan bakar nabati. Pemerintah terus mendorong peningkatan pemanfaatan biodiesel sebagai bagian dari upaya menekan kebutuhan bahan bakar fosil dari luar negeri. Selain sawit, pengembangan energi surya, panas bumi, tenaga air dan berbagai sumber energi terbarukan juga menjadi bagian dari strategi jangka panjang. Diversifikasi tersebut diperlukan agar kebutuhan energi nasional tidak bergantung pada satu sumber saja. Penguatan kapasitas produksi dalam negeri juga diharapkan dapat mengurangi tekanan terhadap devisa akibat impor energi.
Prabowo menilai kekuatan sebuah bangsa tidak hanya ditentukan oleh kekayaan sumber daya alam yang dimiliki, tetapi juga kemampuan mengelola sumber daya tersebut untuk kepentingan masyarakat. Hilirisasi menjadi salah satu kebijakan yang terus didorong agar komoditas Indonesia menghasilkan nilai tambah lebih tinggi sebelum dipasarkan. Pemerintah juga ingin memperkuat industri nasional sehingga kebutuhan strategis tidak selalu bergantung pada barang dan teknologi dari luar negeri. Pendekatan tersebut membutuhkan investasi, teknologi, sumber daya manusia dan infrastruktur yang memadai. Pada saat yang sama, pengelolaan sumber daya perlu mempertimbangkan keberlanjutan lingkungan dan kepastian bagi masyarakat di sekitar kawasan produksi. Pemerintah menempatkan penguatan kemampuan domestik sebagai bagian dari strategi menuju kemandirian ekonomi.
Pesan mengenai kemandirian tersebut sebelumnya juga disampaikan Prabowo dalam Konferensi Tingkat Tinggi BRICS 2026 di New Delhi, India. Dalam forum itu, ia menyebut kekuatan negara bermula dari kemampuan memenuhi kebutuhan dasar rakyat, termasuk pangan, energi, pendidikan dan kesempatan memperoleh kehidupan yang sejahtera. Indonesia juga mendorong kerja sama internasional yang dapat memperkuat ketahanan tanpa menciptakan ketergantungan berlebihan. Kerja sama dengan negara lain tetap diperlukan untuk perdagangan, investasi, teknologi dan pengembangan sumber daya manusia. Namun, pemerintah ingin fondasi ekonomi domestik tetap cukup kuat ketika terjadi gangguan pada perdagangan internasional. Prinsip tersebut menjadi bagian dari pendekatan pemerintah dalam menghadapi perubahan kondisi geopolitik dan ekonomi dunia.
Pemerintah selanjutnya menghadapi tantangan untuk menerjemahkan target kemandirian pangan dan energi menjadi peningkatan produksi yang konsisten dalam jangka panjang. Infrastruktur pertanian, teknologi, produktivitas lahan, kapasitas industri energi dan jaringan distribusi membutuhkan penguatan secara bersamaan. Perubahan cuaca dan fluktuasi harga komoditas global juga menjadi faktor yang perlu diperhitungkan dalam menjalankan kebijakan tersebut. Prabowo menempatkan kemampuan memenuhi kebutuhan dasar masyarakat sebagai salah satu ukuran ketahanan nasional. Swasembada diharapkan dapat mengurangi kerentanan Indonesia ketika terjadi gangguan pasokan dari luar negeri. Dengan penguatan sektor pangan dan energi, pemerintah menargetkan Indonesia memiliki fondasi yang semakin kuat untuk menjalankan pembangunan secara mandiri.






